Rabu, 20 Mei 2009

Masak Pakai Sampah

. Rabu, 20 Mei 2009
1 komentar

Beruntungnya Nurul Sulistiyati, 38 tahun, bersuami Muhammad Nurhuda, 44 tahun. Bukan apa-apa, berkat suaminya itu Nurul kini tak perlu lagi terburu-buru membeli elpiji kalau api kompornya mulai redup.Warga Jalan Kendalsari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, ini sudah menyiapkan kompor pengganti di dapurnya. Namanya kompor biomassa, yang bisa menyala dari serasah, kayu, dan sampah rumah tangga lainnya. "Nyala apinya bagus dan lebih hemat daripada minyak tanah atau elpiji," kata Nurul, Selasa pekan lalu.

Kompor berbahan baku biomassa padat ini asli ciptaan Nurhuda. Dosen fisika di Universitas Brawijaya itu membuatnya setelah sebulan penuh meneliti di laboratorium di kampusnya. Hasilnya, sebuah kompor berbahan bakar biomassa yang berbeda dengan kompor pada umumnya karena nyala api kompor tidak disertai asap yang bisa bikin istrinya batuk-batuk.

Sejatinya, Nurhuda tidak membuat kompor itu spesial untuk sang istri. Anggota Kelompok Kajian Sumber Energi Baru dan Terbarukan di universitasnya itu ingin membantu masyarakat mendapatkan bahan bakar murah dan mudah didapat. Terlebih setelah program konversi minyak tanah menjadi gas yang malah membuat jenis bahan bakar pertama langka dan yang kedua melambung harganya.

Nurhuda lalu memilih bahan bakar biomassa padat. Pilihannya ini didasari kenyataan bahwa sampah mudah diperoleh karena selalu tersedia setiap hari di setiap rumah dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, beban lingkungan akibat banyaknya produksi sampah bisa dikurangi.

Kompor biomassa Nurhuda bukanlah yang pertama di Indonesia. Faktanya, kompor ini sudah tak lagi asing. Namun, Nurhuda menjelaskan, kompor-kompor biomassa yang ada mempunyai sejumlah kekurangan, seperti kualitas pembakaran yang jelek dan menimbulkan polusi. "Ini disebabkan oleh kesalahan dalam pemanfaatan biomassa," ujarnya.

Selama ini, pemakaian biomassa padat sebagai bahan bakar dilakukan dengan menjadikannya sebagai arang terlebih dulu melalui proses karbonisasi. Arang yang terbentuk kemudian dicetak menjadi briket. Menurut Nurhuda, cara itu tidak efektif. Saat pembakaran biomassa menjadi arang, asap yang dihasilkan tak saja menimbulkan polusi, tapi juga menjadi panas yang terbuang sia-sia.

Nurhuda membuat kompornya berbeda. Pembakaran dibuatnya dua tahap-dalam satu tempat atau kompor yang sama. Pertama, pembakaran bahan bakar. Api dalam tahap ini didesain hanya membakar sekeliling "paket" bahan bakar padat seraya menghalangi pasokan oksigen. Akibatnya, muncul asap yang sangat banyak dan jelaga yang ditimbulkan residu karbon.

Di sinilah tahap kedua berlangsung: pembakaran asap. Proses ini dimungkinkan karena asap mengandung gas seperti hidrogen, karbon monoksida, dan metan yang dapat terbakar.

Hasil pembakaran asap inilah yang menghasilkan api "netto" yang menyala lebih bersih dan berwarna biru yang muncul dari lubang di sekeliling kompor. "Semua komponen biomassa dari asap sampai arang digunakan untuk menghasilkan energi. Jadi hampir tak ada sisa pembakaran," kata pria bergelar doktor dari Universitas Bielefeld, Jerman, itu.

Untuk setiap paket--yang juga bisa dibuat sebagai briket--seberat 1 kilogram, kompor Nurhuda bisa menyala sampai satu jam. Panas yang dihasilkan, di antaranya, bisa untuk mendidihkan 12 liter air dalam waktu sekitar 35 menit. Agus Nurrohim, ahli konservasi energi di Pusat Penelitian Teknologi Konversi dan Konservasi Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, menyatakan baru mendengar mekanisme dua kali pembakaran seperti yang digunakan Nurhuda. Kebanyakan kompor berbahan bakar biomassa, menurut Agus, memang sangat tradisional dengan cara bakar langsung.

"Selain polutif, efisiensinya sangat rendah, yakni nilai kalor yang termanfaatkan hanya 12,5 persen dari massa yang digunakan," dia menjelaskan. "Sisanya losses dalam bentuk asap dan panas." Inilah, menurut Agus, yang menjadi kelemahan utama kompor yang memanfaatkan kelimpahan sampah dan limbah organik, yakni kandungan energinya yang rendah, "Sehingga hanya cocok untuk kebutuhan skala kecil."

Agus menyatakan, belum dapat dipastikan efisiensi kompor biomassa buatan Nurhuda. Yang pasti, hilangnya asap semestinya sudah satu langkah yang cukup berarti dalam pengembangan kompor model ini. "Sedangkan panas yang terbuang bisa dirasakan apakah kita merasa panas bila ada di sekitar tungku itu," ujarnya.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Singa Berkantung Pernah Hidup di Australia

.
1 komentar


Benua Australia saat ini bisa dikatakan tak memiliki hewan buas predator seperti harimau dan sejenisnya. Namun, ribuan tahun lalu sejenis singa berkantung pernah hidup di sana. Hal ini dapat dilacak dari tulang-belulang hewan yang ukurannya sebesar macan. Namun, bagaimana bentuk makhluk buas tersebut baru sedikit terkuat dari lukisan-lukisan gua yang ditinggalkan suku aborigin.

Lukisan tersebut memperlihatkan hewan berkaki empat yang memiliki kumis seperti kucing, paha besar, dan memiliki cakar yang besar sesuai fosilnya. Namun ada ciri yang hanya diketahui dari lukisan yakni bagian punggungnya yang belang-belang seperti harimau Tasmania, ekornya berambut lebat, dan telinganya lancip.



Hewan tersebut digambar di dinding-dinding batu pada sebuah gua di barat laut Australia. Pada Juni 2008, seorang naturalis bernama Tim Willing memotret lukisan tersebut dan kemudian disadari sebagai gambar seekor singa berkantung oleh Kim Akerman, antropolog dari Tasmania.

Makhluk liar yang diberi nama spesies Thylacoleo carnifex itu diperkirakan hidup 30.000 tahun lalu berdasarkan usia fosilnya. Namun tidak diketahui kapan punah.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Inikah Nenek Moyang Misterius Bangsa Primata?

.
1 komentar


Ukuran tubuhnya hampir sebesar kucing dengan empat kaki dan berekor panjang. Sosok makhluk purba yang terekam dalam fosil nyaris utuh itu dapat memberi informasi penting mengenai nenek moyang bangsa primata, termasuk kera besar bahkan manusia.

Para ilmuwan memperkirakan fosil tersebut umurnya 47 juta tahun. Fosil tersebut kemungkinan berasal dari hewan muda yang mati saat berumur antara 9 hingga 10 bulan. John Hurum, ketua tim ilmuwan yang melaporkan temuan tersebut memberi nama spesimen tersebut Ida, diambil dari nama anak perempuannya yang baru berumur 6 tahun. Temuan berharga tersebut dilaporkan dalam jurnal online PLoS (Public Library of Services).


"Ia menyimpan banyak cerita. Kami baru saja memulai penelitian pada spesimen yang sangat bernilai ini," ujar John Hurum, ilmuwan dari University of Oslo Natural History Museum. Dilihat dari bentuk tubuhnya mungkin makhluk tersebut bukan nenek moyang langsung monyet atau kera besar. Namun, karakteristik tubuhnya memberi gambaran bahwa kemungkinan nenek moyang bangsa primata berbentuk seperti itu.

Beruntung para ilmuwan menemukan fosil makhluk tersebut dalam kondisi susunan tulang-belulang yang hampir lengkap sehingga diharapkan dapat mengungkap misteri makhluk misterius tersebut sesegera mungkin. Fosil yang ditemukan di Jerman itu dipamerkan Selasa (19/5) di Museum Sejarah Nasional New York, AS untuk menarik perhatian publik.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 08 Mei 2009

Perangko Tahun Astronomi Diluncurkan

. Jumat, 08 Mei 2009
1 komentar


PT Pos Indonesia meluncurkan perangko seri Tahun Astronomi Internasional 2009 yang digelar di Pusat Observatorium Boscha Lembang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (2/5).

Perangko seri itu merupakan perangko peringatan Tahun Astronomi Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO dan digelar di seluruh dunia sepanjang Tahun 2009.

Peluncuran dilakukan oleh Direktur Operasi PT Pos Indonesia Soebandi, Kepala Bischa Dr M Taufik serta dihadiri oleh pejabar dari Kementrian Riset dan Teknologi, Depkominfo serta para peneliti astronomi ITB. "Tahun Astronomi Internasional ini sebagai peringatan 400 tahun penggunaan telescop pertama yang dilakukan oleh Galileo Galiley," kata Kepala Unit Filateli PT Pos Indonesia, Abdusyukur.



Abdusyukur menyebutkan, penerbitan perangko seri peringatan Tahun Astronomi Internasional itu juga dilakukan di negara-negara lainnya di dunia. Perangko seri Tahun Astronomi Internasional yang diluncurkan PT Pos Indonesia saat ini terdiri dari tiga seri gambar masing-masing gambar bernilai nominal Rp2.500 per unit perangko.

Gambar pertama memperlihatkan gambar telescop pertama di dunia yang digunakan oleh Galileo Galiley. Gambar kedua tulisan peringatan Tahun Astronomi Internasional 2009 serta seri gambar ketiga gambar wajah Galileo Galilei.

Pada perangko itu juga digambarkan Kubah Boscha yang merupakan tempat teropong bintang kebanggaan Indonesia yang menyimpan telescop terbesar "Zeus". Perangko seri ini dicetak 900 ribu keping dan 10 ribu sampul peringatan hari pertama. Perangko itu akan didistribusikan ke seluruh Indonesia.

"Pencetakan seri astronomi dan tata surya ini merupakan yang ketujuh kalinya, pertama kali seri perangko tata surya dicetak tahun 1968 seri Ulang Tahun Boscha. Termasuk pula perangko peringatan gerhana matahari," kata Abdusyukur. Dua seri terakhir perangko tata surya diterbitkan tahun 2001 dan 2003.

Kepala Unit Filateli PT Pos Indonesia itu menyebutkan, pencetakan perangko seri Tahun Astronomi ini merupakan salah satu dari rencana pencetakan 15 seri perangko pada 2009 ini. Awal tahun ini PT Pos juga mencetak seri perangko Tahun Kerbau dan terakhir seri Ulang Tahun Emas Institut Teknologi Bandung (ITB),

Klik disini untuk melanjutkan »»

Mobil Bertenaga Coklat

.
0 komentar


Alternatif bahan bakar ramah lingkungan bisa dari bahan apa saja bahkan yang mungkin tak terpikirkan sama sekali sebelumnya. Kalau di Indonesia pernah diperkenalkan jelantah atau minyak goreng bekas pakai sebagai bahan bakar mobil, di London, Inggris para ilmuwan menggunakan coklat sebagai bahan bakar.

Mobil bertenaga coklat itu untuk pertama kalinya diperkenalkan Selasa (5/5). Jangan berpikir yang dipakai adalah cokelat batangan karena harganya bisa selangit. Yang mereka gunakan adalah limbah coklat dari pabrik yang selama ini dibuang dicampur minyak nabati sebagai biofuel.
Alternatif bahan bakar ramah lingkungan bisa dari bahan apa saja bahkan yang mungkin tak terpikirkan sama sekali sebelumnya. Kalau di Indonesia pernah diperkenalkan jelantah atau minyak goreng bekas pakai sebagai bahan bakar mobil, di London, Inggris para ilmuwan menggunakan coklat sebagai bahan bakar.

Mobil bertenaga coklat itu untuk pertama kalinya diperkenalkan Selasa (5/5). Jangan berpikir yang dipakai adalah cokelat batangan karena harganya bisa selangit. Yang mereka gunakan adalah limbah coklat dari pabrik yang selama ini dibuang dicampur minyak nabati sebagai biofuel.

Tidak hanya bahan bakarnya yang ramah lingkungan, mobil tersebut juga dibuat dari serat tumbuh-tumbuhan yang tak beracun. Misalnya, ban terbuat dari serat wortel dan akar-akaran, tempat duduknya dari campuran rami dan busa minyak kedelai. Body-nya pun dari serat tumbuh-tumbuhan.

Kecepatan lajunya tak kalah dengan mobil pada umumnya. Pada pengujian saat ini baru dikebut 96 kilometer perjam namun saat diuji coba di jalur belapan diharapkan mampu menembus kecepatan 232 kilometer perjam. Mobil yang diberi nama "WorldFirst Formula 3 racing" car itu memang akan digunakan dalam balapan European Grand Prix dan Britain's Goodwood Festival of Speed.
Tidak hanya bahan bakarnya yang ramah lingkungan, mobil tersebut juga dibuat dari serat tumbuh-tumbuhan yang tak beracun. Misalnya, ban terbuat dari serat wortel dan akar-akaran, tempat duduknya dari campuran rami dan busa minyak kedelai. Body-nya pun dari serat tumbuh-tumbuhan.

Kecepatan lajunya tak kalah dengan mobil pada umumnya. Pada pengujian saat ini baru dikebut 96 kilometer perjam namun saat diuji coba di jalur belapan diharapkan mampu menembus kecepatan 232 kilometer perjam. Mobil yang diberi nama "WorldFirst Formula 3 racing" car itu memang akan digunakan dalam balapan European Grand Prix dan Britain's Goodwood Festival of Speed.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Semut Bisa Mencium Aroma Kematian

.
0 komentar


Sebagai makhluk sosial, semut sangat peka terhadap lingkungannya, seperti saat menemukan salah satu anggota koloninya yang tewas. Begitu ada satu ekor semut yang mati, semut-semut lainnya langsung segera menyingkirkannya atau disebut proses nekroporesis.

Cara tersebut bermanfaat bagi populasinya karena dapat menghindarkan penyebaran infeksi penyakit. Namun, bagaimana semut mati dapat segera dikenali. Tentu bukan dengan cara mengukur denyut nadinya.



Teori sebelumnya memperkirakan bahwa semut yang mati mengeluarkan zat kimia akibat proses pembusukan. Namun, hasil penelitian terakhir yang dilakukan para entomolog, ahli serangga, di Argentina menghasilkan analisis sedikit berbeda.

Menurutnya, semua jenis semut punya zat kimia "kematian", baik saat masih hidup maupun saat mati. Namun, hanya semut hidup yang punya zat kimia "kehidupan". Saat mati, zat kimia kehidupan terus berkurang sampai akhirnya hilang sama sekali sehingga menyisakan zat kimia kematian saja.

"Itu karena semut mati tidak lagi berbau seperti semut hidup dan segera dikirim ke 'kuburannya', bukan karena tubuhnya mengeluarkan zat kimia baru," ujar Dong-Hwan Choe, dari Universitas California di Riverside, AS. Hasil analisisnya dijelaskan terperinci dalam The Proceedings of the National Academy of Sciences.

Menurut Choe, pemahaman mengenai nekroporesis seperti ini akan membantu para peneliti untuk mengembangkan strategi pemberantasan hama yang ramah lingkungan. Misalnya dengan menggunakan zat kimia organik dan mengurangi penggunaan insektisida.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Terumbu Karang Bisa Jadi Penyerap Karbon

.
0 komentar


Penyerapan karbon (carbon sink) dalam proses asimilasi melalui media terumbu karang dimungkinkan terjadi, khususnya di kawasan Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan.

Peneliti Bidang Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kurnaen Sumadiharga di Jakarta, Rabu, mengatakan, isu penyerapan karbon melalui media terumbu karang ini harus dijadikan topik bahasan utama dalam Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) di Manado, 11-14 Mei 2009.

Ia menjelaskan, proses fotosintesa mungkin dilakukan oleh tumbuhan yang memiliki zat hijau daun atau klorofil. Menurut dia, terumbu karang terdiri dari unsur binatang karang bernama Polip yang melakukan simbiosis mutualisme dengan tumbuhan alga, yakni ganggang hijau.

"Tumbuhan inilah yang sesungguhnya melakukan proses fotosintesa, sekalipun di dalam air," katanya. Proses fotosintesa, kata dia, memerlukan karbon dioksida (CO2) serta sinar matahari, yang selanjutnya menghasilkan oksigen (O2), air serta gula. Adapun CO2 yang menjadi bahan utama proses fotosintesa, kata dia, juga tersedia di laut.

Ia mengatakan, pada malam hari, saat terumbu karang tidak melakukan asimilasi, tumbuhan ini justru menghasilkan CO2. "Karbon yang dihasilkan saat malam hari inilah yang menjadi bahan utama terjadinya proses fotosintesa," katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, keberadaan terumbu karang ini harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.

Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Pesisir dan Laut Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Negara Lingkungan Hidup Wahyu Indraningsih menuturkan, keberadaan terumbu karang di Indonesia harus benar-benar dijaga. Menurut dia, selain disebabkan oleh penggunaan bahan peledak, perubahan iklim global beberapa waktu terakhir ini juga menjadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang.

Ia mengatakan, perubahan iklim berakibat terhadap naiknya suhu air laut. "Suhu air laut yang naik 2-3 derajat Celcius dalam dua minggu berturut-turut menyebabkan kerusakan terumbu karang," katanya. Kondisi semacam ini, lanjut dia, juga sudah mulai terindikasi di wilayah Indonesia.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Daratan Tertua di Bumi Ada di Israel

.
0 komentar


Ilmuwan Isarel mengklaim dataran tertua di Bumi ada di Gurun Negev yang masih masuk ke wilayah negara tersebut. Hasil pengukuran menunjukkan batu-batuan yang membentuk daratan tersebut berumur 1,8 juta tahun.

Dengan usia setua itu, daratan luas yang rata, keras, dan kering tersebut mengalahkan rekor yang dicatat daratan di Gurung Nevada, AS. Seperti dilansir situs American Association for the Advancement of Science (AAAS), usianya empat kali lebih tua daripada daratan tertua di Gurun Nevada.


Meski demikian, daratan tertua bukan berarti mengandung material yang juga paling tua di muka Bumi. Banyak batu-batuan yang umurnya jauh lebih tua daripada daratan tersebut.

"Permukaan yang kami temukan mirip sekali dengan daratan luas di Sahara dan gurun-gurun Arabia," kata Ari Matmon dari Universitas Hebrew Jerusalem yang melaporkan hasil penelitiannya dalam GSA Bulletin.

Ia memperkirakan, daratan luas yang datar dan kering itu terbentuk akibat aktivitas tektonik yang lambat. Batuan yang membentuk sangat tahan dari perubahan cuaca sehingga tetap bertahan selama jutaan tahun.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Serpihan Ilmu Blogger.com | Template by dieflash.com